Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Desember 2010

366 Cerita Rakyat Nusantara

Sumber gambar:http://www.adicita.com/media/gallery/01_366-Cerita-Rakyat-Nusantara.jpg
Sekarang,saya akan membahas suatu buku cerita yang saya idam-idamkan dari dulu,meskipun sudah mempunyai 7 (tujuh) buku cerita,(2 (dua) buku kecil yang dibeli di bazaar buku sekolah,5 (lima) buku cerita yang dibeli di gramedia matraman).Dari ketujuh buku itu akan saya sebutkan satu persatu secara berurutan menurut waktu saat saya membeli buku itu:
1.MB.Rahimsyah,Kumpulan Cerita,Legenda,Dongeng Rakyat Nusantara,Jakarta:Bintang Indonesia,2004 (Beli di bazaar buku sekolah)
2.Monika Cri Maharani,Cerita Rakyat Asli Indonesia,Jakarta:Cikal Aksara,2010 (Gramedia Matraman)
3.Tim Optima Pictures,101 Cerita Nusantara,Jakarta:PT.Transmedia Pustaka,2009 (Gramedia Matraman)
4.Sumbi Sambangsari,Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara,Jakarta:Wahyu Media,2009 (Gramedia Matraman)
5.Lia Nuralia & Iim Imadudin,Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Terpopuler,Jakarta:Ruang Kata,2009 (Gramedia Matraman)
6.Tira Ikranegara,Legenda Rakyat Sumatera Barat "Malin Kundang-Anak Durhaka",Jakarta:Bintang Indonesia,tahun? (Bazaar Buku Sekolah)
7.Marina Asril Reza,108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara,Jakarta:Visi Media,2010 (Gramedia Matraman)
Sementara,pada saat saya mencari buku 366 CRN di Gramedia,saya tidak menemukannya,meskipun telah dibantu oleh kakak saya.Saya juga telah menyimpan informasi kontak adicita perwakilan Jakarta.Yaitu adalah:
Alamat:Jalan Pangeran Jayakarta,Jakarta Pusat
Telpon:021 919 00 200 HP:08999 2000 50 (Ibu Elis)
Saya telah berencana kalau di Gramedia tak ada bukunya,saya akan pergi membelinya ke alamat diatas.Tetapi,saat kakak saya telah menelpon nomor hpnya,katanya bukunya memanglah tak ada di Gramedia.Tetapi juga tidak bisa membeli bukunya disana.Cara untuk mendapatkan bukunya adalah kita harus memesan bukunya,lalu yang perwakilan Jakarta akan memesan stoknya ke Jogja,karena kalau di Jogja bisa dibeli langsung.Lalu,bila pesanan sudah sampai di kantor Perwakilan Jakarta,kita tinggal mengambil pesanannya disana.Menurut saya,cara itu agak ribet karena harus memesan,apalagi harus mengambil pesanannya,tak bisa diantar ke rumah,Ribet kan?Tetapi,kakak saya sudah bilang kalau mau pesan bukunya,tetapi bukunya belum sampai.Inilah alamat yang di Jogja:
Alamat:Jalan Sisingamangaraja 27,Yogyakarta 55153
Telepon/Faksimili:(0274) 377067,379250,372893
Inilah hasil copy paste yang sumbernya dari sini: http://www.adicita.com/bukubaru/detail/id/20/366-Cerita-Rakyat-Nusantara
Buku ini memiliki keunikan, karena cerita didalamnya berjumlah 366 buah. Apabila setiap hari satu cerita rakyat dibacakan, buku ini baru akan selesai dibaca setelah satu tahun. Dengan membaca buku ini berbagai nilai budaya didalamnya dapat diketahui dan digunakan sebagai pembimbing perilaku. Kita dapat mengenali khazanah pengetahuan, kearifan, ajaran, dan imajinasi nenek moyang kita tentang kehidupan.
 
Judul : 366 Cerita Rakyat Nusantara
No. ISBN : 979-9246-21-0 
Penulis : Tim Penulis Adicita Grup 
Editor : Mahyudin Al Mudra, S. H., M.M., Ir. Tuti Sumarningsih., Daryatun., Hadi Kurniawan 
Penerbit : Adicita Karya Nusa / BKPBM  
Tahun Terbit : 2008
Jumlah Halaman : 996 Halaman + xv = 1011Halaman
Ukuran : 21 x 29 cm
Kertas : CD Import
Cetakan : 1
Berat Buku : 2000 gram
Keterangan : REKOR INDONESIA

PIAGAM PENGHARGAAN

Museum Rekor Dunia Indonesia
No.3493 / R.MURI / 2008

DIANUGERAHKAN KEPADA

Penerbit Adicita Karyanusa

Atas Rekor

Penerbit Buku Cerita Rakyat Asli I
Harga : Rp.650.000,- Beli


Selasa, 16 November 2010

Malin Kundang

Malin Kundang menceritakan seorang anak yang durhaka kepada ibunya dan dikutuk menjadi batu.Batu itu bentuknya bersujud.Batu tersebut masih bisa dijumpai di Pantai Aia Manih atau Pantai Air Manis yang terletak di Sumatera Barat.Kisah ini belum bisa dipastikan kebenarannya.Sebagian besar mengatakan bahwa peristiwa ini benar-benar terjadi.
Dahulu,di desa nelayan yang letaknya di pesisir Pantai Air Manis,terdapat sepasang suami istri nelayan.Sang istri bernama Mande Rubayah.Mereka hidup sangat miskin.Pada suatu hari,sang suami pergi merantau untuk mencari uang”Bu,aku akan pergi merantau untuk mencari uang.Ibu baik-baik ya disini.Aku akan berangkat sekarang”.Istrinya mengizinkannya.Tetapi,suaminya belum pernah kembali lagi.

Pada suatu hari,Sang ibu melahirkan seorang bayi laki-laki.Putranya itu dinamakan Malin Kundang.Malin Kundang tumbuh menjadi seorang anak yang rajin dan berbakti kepada ibunya.

Ibunya mencari uang dengan cara menjual ikan-ikan hasil pancingan para nelayan.Ibunya juga memetik beberapa tandan pisang dan mengolahnya menjadi getuk atau pisang goreng.”Malin,kamu jual getuk-getuk ini ke pasar ya””Baik,ibu”Malin akan menjualnya di pasar.

Malin Kundang merupakan anak yang cerdas tetapi sedikit nakal.Ia sering mengejar ayam yang entah milik siapa dan memukulnya dengan sapu lidi.Suatu hari,saat ia mengejar ayam,Malin tersandung batu dan terjatuh”Ibu,tolong Malin ibu,aku tersandung batu dan terjatuh”.”Malin,kamu terluka anakku.Luka ini sepertinya tidak bisa hilang Malin”.Malin lengannya terluka.Luka tersebut tidak akan bisa hilang.

Malin juga sering membantu para nelayan dan awak kapal untuk mendapatkan uang.Uang itu akan diberi untuk ibunya.Bila ada waktu luang,Malin bermain Glonggong atau sejenis pedang tumpul yang terbuat dari batang papaya yang lentur.Di kampungnya,Malin selalu menang dan tidak ada orang yang bisa mengalahkannya.

Pada suatu hari,saat Malin sudah berumur 10 tahun,ada kapal besar datang.Saudagar kaya yang berlayar menggunakan Kapal tersebut menantang Malin untuk bermain Glonggong.”Hai anak muda,aku akan menantangmu bermain glonggong.Ayo,sekarang kita bertanding”.Rupanya,Malin bisa mengalahkannya.Sang Nahkoda pun mulai bertanya”Hai siapa nama kamu?”tanya Nahkoda.”Aku bernama Malin Kundang,biasa dipanggil Malin.Mengapa tuan menanyakannya?”tanya Malin.”Kamu akan kuajak untuk bekerja di negeri seberang.Apakah kamu mau?Aku tunggu jawaban kamu dalam waktu tiga hari.Aku akan menetap di desa ini”.Malin pun berpikir”Tunggu,aku akan menanyakannya kepada ibuku.Bila ibuku mengijinkannya,aku akan kembali”.

Malin kembali ke rumah.Malin lalu memikirkan hal itu.Setelah lama berpikir,Malin bertanya kepada Ibunya.”Ibu,izinkan Malin untuk pergi berlayar ke negeri seberang untuk mencari uangAku berjanji akan bekerja dengan Rajin.Bila aku berhasil,aku akan pulang untuk menemui ibu”.”Malin,kamu adalah anak ibu satu-satunya.Ayah kamu tidak pernah kembali karena merantau.Oleh karena itu,tak usahlah kamu pergi.Kalau mau bekerja,bekerjalah disini”.”Tapi ibu,kalau Malin bekerja disana,aku akan menjafi kaya dan mendapatkan banyak uang”

Setelah Malin memaksa,akhirnya ibunya mengijinkannya”Baiklah,kalau itu maumu,ibu mengijinkannya”.”Terima kasih ibu”ucap Malin.Lalu,Malin datang ke tempat sang saudagar.Setelah bertemu,Malin menjelaskannya”Bagaimana,ibumu setuju?”tanya sang Saudagar.”Setuju Tuanku,kapan aku bisa berangkat?”tanya Malin.”Aku akan berangkat berlayar nanti sore,kamu bersiap-siaplah terlebih dahulu”.”Baiklah tuan,aku akan berangkat sore nanti sebelum berangkat”.

Malin pun pergi pulang.Sore harinya,ia akan pergi.Ibunya mengantarkannya ke pantai sampai naik ke kapal dengan berderai air mata.”Tuan,apakah sekarang sudah siap untuk berangkat?”tanya Malin.”Sudah siap,sekarang kita berangkat berlayar”.

Ibunya lalu memberikan sebuah keris pusaka peninggalan ayahnya”Malin,bawalah keris peninggalan ayahmu ini.Dan juga,janganlah lupakan ibumu ini,ibu akan selalu menunggumu disini.Berilah kabar selalu kepada ibumu”ucap ibunya.”Baik ibu,aku akan selalu mengingat ibu dan akan memberikan kabar”.Setelah itu,Malin pergi berlayar.Ibunya melihat kapalnya semakin menjauh.Ibunya masih ingin melihat Malin.”Malin,berilah kabar kepada ibu Malin,jangan lupakan ibu”teriak ibunya.

Ibunya selalu menunggu di rumah.Ibunya selalu berdoa agar Malin selamat.”Ya Tuhan,lindungilah anakku yang di negeri seberang”

Malin bekerja dengan rajin di negeri seberang dan mempersunting gadis yang merupakan putri dari saudagar paling kaya di negeri itu.Setelah itu,Malin pulang ke kampungnya.Berita kepulangan Malin sampai ke ibunya.Sang Ibu lalu pergi ke pantai untuk menemui Malin.Tetapi,Malin tidak mau mengakui ibunya.”Lancang benar wanita tua ini,pengawal,usir dia”perintah Malin kepada pengawalnya.Tetapi,ibunya masih sempat berkata.Ibunya menadahkan tangannya ke atas dan berdoa”Ya Tuhan,bila benar bahwa orang itu adalah anakku,hukumlah dia dan kutuklah menjadi batu”

Setelah itu,hujan turun dengan derasnya diiringi angin yang berembus kencang.Karena itu,Malin bersujud dan meminta ampun kepada ibunya “Ibu,ampuni aku ibu,aku memang anakmu”.Tetapi,penyesalan sudah terlambat.Badan Malin berubah menjadi kaku,dan lama kelamaan menjadi batu yang menyerupai seorang manusia yang sedang bersujud.Batu itu terletak di Pantai Air Manis.

Dayang Bandir dan Sandean Raja (Legenda Rumah Bolon)

Rumah Bolon merupakan Rumah Adat dari Sumatera Utara.Rumah ini berukir dengan pahatan yang indah.Orang Batak tinggal di rumah ini.Satu Rumah Bolon biasanya ditempati oleh beberapa keluarga sekaligus.Konon,Sandean Raja diyakini sebagai nenek moyang masyarakat Batak Masyarakat Batak menganggap bahwa pernikahan yang ideal adalah  seorang pria dengan anak saudara laki-laki ibunya.
Dahulu,di Sumatera Utara terdapat dua buah kerajaan yang bernama Kerajaan Timur dan Kerajaan Barat.Raja dari Kerajaan Timur kemudian menikahi Adik Perempuan dari Kerajaan Barat dan dikaruniai seorang anak perempuan yang dinamakan Dayang Bandir.Tujuh tahun kemudian,mereka melahirkan lagi seorang anak laki-laki bernama Sandean Raja.

Tetapi,ketika anak-anak mereka masih kecil,Raja dari Kerajaan Timur meninggal.Karena Sandean Raja masih kecil untuk menjadi raja,akhirnya diadakanlah sidang kerajaan.Dalam sidang itu,Paman Karaeng diangkat menjadi Raja sementara Kerajaan Timur.Paman Karaeng memanglah ingin menguasai Kerajaan Timur selamanya dari dulu.Karena itu,ia mengambil benda-benda pusaka Kerajaan Timur.

Dayang Bandir mengetahui niat jahat Paman Karaeng.Ia lalu menyembunyikan benda-benda pusaka Kerajaan Timur agar tidak diambil Paman Karaeng karena yang pantas memilikinya adalah adiknya,Sandean Raja,sang penerus Kerajaan Timur.

Paman Karaeng kaget ketika ia tidak menemukan benda-benda pusaka Kerajaan Timur pada tempatnya.Ia mengetahui bahwa Dayang Bandirlah yang menyembunyikannya “Hai Dayang Bandir,kembalikanlah benda-benda pusaka yang seharusnya disini”.”Mengapa paman mencarinya?”tanya Dayang Bandir.”Aku adalah raja disini!”ucap Paman Karaeng.”Paman tidak pantas menjadi raja,Sandean Rajalah yang pantas menjadi raja.Paman hanya raja sementara di Kerajaan Timur!”Ucap Dayang Bandir.Paman Karaeng lalu mulai mengancam Dayang Bandir jika tidak mau memberikannya.”Aku Tidak Takut!”tegas Dayang Bandir.Paman Karaeng lalu membawa Dayang bandir dan Sandean Raja ke hutan dan mengikat Dayang Bandir di atas pohon yang tinggi sehingga Sandean Raja tidak dapat menjangkaunya.Sandean Raja terjatuh berkali-kali dan terluka.

Dayang Bandir selalu menghibur Sandean Raja dari atas pohon.Dayang Bandir disiksa oleh Paman Karaeng tanpa diberi makan dan minum.Tubuhnya lemas diatas pohon,hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya.Sandean Raja pun kini hidup sendiri.Ruh Dayang Bandir selalu menemani Sandean Raja.Sandean Raja tumbuh menjadi pemuda yang cakap dan pemberani.

Sandean Raja berhasil keluar dari hutan dan pergi ke Kerajaan Barat untuk bertemu Raja Soma,adik kandung ibunya.Raja Soma merupakan seorang raja yang arif dan bijaksana,tak seperti Paman Karaeng.Setelah bertemu,Sandean Raja mengatakan kepada Raja Soma bahwa dirinya adalah putra dari Raja Kerajaan Timur.Raja Soma yang merupakan raja yang hati-hati tak langsung percaya bahwa Sandean Raja itu memang betul keponakannya,Sandean Raja karena terdengar kabar,bahwa Sandean Raja dan Dayang Bandir telah meninggal.

Raja Soma lalu mengajukan syarat kepada Sandean Raja,yaitu adalah memindahkan sebatang pohon dari hutan ke istana Kerajaan Barat agar Raja Soma percaya bahwa sang pemuda itu benar-benar Sandean Raja.“Pindahkanlah sebatang pohon dari hutan ke  istana ini agar aku percaya bahwa kamu adalah keponakanku”.Sandean Raja pun melakukannya. Sandean Raja berhasil memindahkan sebatang pohon ke istana Raja Soma.Raja Soma belum percaya.Ia mengajukan syarat yang kedua yaitu menebas hutan menjadi perladangan “Aku belum percaya denganmu.Karena itu,tebaslah hutan agar menjadi sebuah perladangan!”.Dalam waktu singkat,Sandean Raja berhasil melakukannya.

Raja Soma menjadi bingung.Ia kemudian mengajukan syarat ketiga yaitu harus membuatkan Rumah Bolon atau Istana Besar “Aku belum percaya denganmu.Untuk meyakinkanku,buatkanlah aku Rumah Bolon(Istana Besar)untukku!”.Sandean Raja berhasil mendirikan Rumah Bolon dalam waktu tiga hari.Raja Soma masih belum percaya.Ia kembali mengajukan syarat yaitu menunjukkan putrinya diantara gadis-gadis yang berada dalam ruangan yang gelap “Hai anak muda,aku belum percaya bahwa engkau itu adalah Sandean Raja.Aku akan mengajukan syarat yang terakhir kepadamu yaitu menunjukkan putriku yang berada didalam ruangan yang gelap diantara gadis-gadis lainnya!”.Inilah syarat yang paling sulit baginya.

Tiba-tiba,datang ruh Dayang Bandir menenangkannya.Sandean Raja lalu masuk kedalam ruangan yang gelap untuk menunjukkan sang putri raja diantara gadis-gadis yang ada.Ruh Dayang Bandir membantunya.Dan,akhirnya Sandean Raja berhasil melakukannya berkat bantuan ruh kakaknya,Dayang Bandir.Raja Soma pun sekarang telah percaya bahwa pemuda itu adalah keponakannya,Sandean Raja.

Raja Soma lalu menikahkan putrinya dengan Sandean Raja.Sandean Raja lalu tinggal di Kerajaan Barat.Tetapi,ia teringat akan amanah ayahnya,yaitu menjadi penerus Kerajaan Timur.Sandean Raja lalu mengadakan perang dan menyerang Kerajaan Timur untuk menyingkirkan Paman Karaeng.Paman Karaeng akhirnya tewas.Sandean Raja berhasil menguasai Kerajaan Timur dengan bijaksana seperti ayahnya.


Pesan Moral:
Kejahatan akan terungkap nantinya,sedangkan kebaikan akan menang melawan kejahatan.
 
 

Raja Parakeet (Raja Burung Parkit)


Burung Parakeet atau yang dikenal dengan nama Burung Parkit adalah satwa yang banyak terdapat di benua Afrika dan Asia,termasuk Indonesia.Burung ini memiliki bulu beraneka warna,seperti biru,merah,kuning,hijau,atau campuran dari warna-warna tersebut.Burung Parkit dikenal sangat setia pada pasangannya dan sangat jinak.
Dahulu,di Aceh terdapat sebuah hutan belantara bernama hutan Aceh.Hutan ini rimbun,hijau,dan rindang.Hutan ini memberikan makanan berlimpah kepada burung-burung dan hewan-hewan yang ada pada hutan tersebut.

Di hutan itu,hiduplah sekelompok burung-burung parkit.Mereka memiliki raja burung parkit yang adil dan bijaksana.Namanya adalah Raja Parakeet.Raja itu juga sangat menyayangi rakyatnya.Rakyatnya setiap hari hidup bahagia.Mereka bermain melompat kesana kemari dari satu pohon ke pohon lainnya.

Suatu hari,kebahagiaan mereka terusik saat ada seorang pemburu.Pemburu itu sangat cerdik.Dia menaruh perangkap di beberapa pohon tempat burung-burung bercengkrama untuk menangkap burung “Wah,kalau burung-burung parkit itu berhasil kutangkap,bila dijual aku akan kaya”gumam pemburu.

 Burung-burung tersebut yang tidak mengetahui bahwa sudah terperangkap,menjerit-jerit kesakitan dan panik,kecuali si Raja Parakeet.Raja Parakeet yang mendengar gumaman sang pemburu,menjadi tahu bahwa perekat itu sengaja dipasang untuk menangkap mereka.Sang raja memerintahkan rakyatnya untuk diam dan berpura-pura mati “Wahai rakyatku,janganlah panik.Orang itu sengaja menaruh perekat di sini untuk menangkap kita.Besok,ia akan datang mengambil kita.Keesokan harinya,kita diam dan berpura-pura mati.Karena itu,orang itu akan melepaskan kita.Ketika ia melepaskan kita,tunggu hitungan keseratus dan terbanglah”.Rakyatnya pun menyetujui siasat sang raja meskipun siasat tersebut terasa aneh.

Keesokan harinya,Sang pemburu pun datang.Tetapi,alangkah kaget bercampur kecewa saat melihat burung tersebut sudah mati “Ah,burung-burung parkit ini sudah mati.Takkan bisa dijual” .Pemburu itu pun melepaskan dan meninggalkan burung-burung itu.Setelah hitungan keseratus,burung-burung itu terbang bebas melesat ke angkasa dan berkicau gembira.Rupanya,inilah siasat Raja Parakeet untuk membebaskan diri.Tetapi,sang raja tidak sempat meloloskan diri dan tertangkap.

Karena merasa ditipu,sang pemburu marah dan akan membunuh Raja.”Hai raja parkit!rakyatmu sudah menipuku!pasti ini siasat kamu kan?Sekarang,aku akan membunuhmu!”Ucap sang pemburu kepada raja parakeet.Raja Parakeet meminta ampun kepada sang pemburu untuk melepaskannya “Ampun wahai pemburu,jangan bunuh aku”.”Enak saja aku melepaskanmu”ucap Pemburu.Raja Parakeet pun berjanji akan menghibur sang pemburu dengan kicauannya yang indah “Aku berjanji akan menghiburmu dengan kicauanku yang indah,jadi lepaskanlah aku”.”Coba,seindah apa suara kamu”tanya Pemburu.Ternyata benar,Suaranya sangat merdu.Sang Pemburu pun membawa pulang burung tersebut.”Wah,suaramu indah sekali.Baiklah,aku akan membawa pulang kamu dan kamu ku ampuni dan tak jadi aku bunuh”.

Karena kicauannya yang indah,banyak tetangganya yang setiap hari sering datang ke rumah sang pemburu untuk sekedar mendengar kicauan sang burung.”Wah,merdu sekali suara burung itu.Beruntung sekali sang pemburu mempunyai burung seperti ini”Ucap salah satu dari tetangga yang memuja keindahan suara sang raja parkit.

 Berita tentang keindahan suara kicauan Raja Parakeet sampai ke telinga sang Raja Aceh.Sang raja pun tertarik dengan keindahan suara Raja Parakeet.”Kalau memang benar Burung tersebut berkicau dengan Indah,maka aku harus memilikinya!”Pikir Sang Raja Aceh.Raja Aceh pun mengirim utusannya kepada sang pemburu untuk menukar Raja Parakeet dengan Permata-permata yang sangat banyak dan mahal.”Hai utusanku,pergilah kalian menukar permata-permata ini ke seorang pemburu yang mempunyai burung parkit tersebut dan tukarkan ke burung tersebut!”titah sang raja. ”Baik baginda raja”.

Tak berapa lama,utusan sang raja Aceh pun datang.Lalu,mereka menemui sang pemburu dan berkata “Wahai pemburu,Raja kami mendengar kabar keindahan suara burung milik engkau itu.Sang Raja meminta menukarkan burungmu itu dengan permata-permata yang banyak dan mahal ini”.Mereka meminta menukarkan burung parkit dengan permata-permata yang banyak dan mahal.Sang pemburu pun berpikir.Setelah lama ia berpikir untuk memberikannya atau tidak burung parkit peliharaannya itu,ia mengangguk setuju dan menyerahkan burung parkit tersebut “Baiklah,aku serahkan burung Parkit ini kepadamu”.Setelah itu,para utusan raja kembali ke istana.

Setibanya di istana Aceh,para utusan raja menyerahkan burung Parkit yang mereka dapatkan kepada Sang Raja Aceh.Sang Raja Aceh kemudian menempatkan burung parkit ke sangkar emas yang indah,lalu diberi makanan yang enak.Namun,Raja Parakeet tidak bahagia.Ia selalu teringat Hutan Aceh yang tentram dan rindang.Raja Parakeet selalu teringat dengan rakyatnya yang tengah merindukan sang Raja Parakeet.Raja Parakeet sengsara dan sedih

Raja Parakeet pun mencari akal agar dapat keluar dari istana Aceh dan kembali ke Hutan Aceh.Ia pun teringat akan siasatnya yang terdahulu yaitu berpura-pura mati.Raja Parakeet pun memulai siasatnya.Saat Raja Parakeet berpura-pura mati,Sang raja Aceh sangat sedih.Ia memerintahkan untuk mengubur burung kesayangannya dengan upacara kebesaran.Saat akan dikuburkan,Raja Parakeet melesat ke angkasa dan terbang kembali menuju Hutan Aceh “Aku bebas,aku bebasss……”.

Rakyat Raja Parakeet yang merindukan Raja Parakeet menyamut sang raja dengan gembira.Mereka Berkicau gembira karena Raja mereka telah kembali “Lihat,Raja kita telah kembali,Horeee”.Kini,sang Raja Parakeet dengan rakyatnya kembali hidup tentram dan bahagia di Hutan Aceh yang rindang.


Mentiko Bertuah

Dahulu,di Pulau Simeulue,terdapat sebuah kerajaan.Kerajaan itu bernama Kerajaan Simeulue.Kerajaan itu mempunyai seorang raja yang arif,kaya,dan bijaksana.Raja itu sangat disukai oleh rakyatnya kerena kedermawanannya.Sayangnya,mereka belum mempunyai putra mahkota sejak sepuluh tahun menikah.Sang Raja pun tidak lupa selalu berdoa dan berusaha agar dikaruniai anak,termasuk mengajak permaisurinya pergi ke hulu sungai yang berair jernih dan sangat dingin untuk berlimau dan bernazar selama sehari semalam agar dikaruniai seorang putra mahkota untuk mewarisi tahta kerajaannya.

 Setelah menunggu lama,akhirnya sang permaisuri mengandung.Usaha dan doa Raja dan Permaisuri akhirnya tidak sia-sia.Delapan bulan kemudian,sang permaisuri melahirkan seorang bayi laki-laki.Mereka menamakan anak itu Rohib”Tidak sia-sia usaha dan doa kita.Kanda akan menamakan anak kita Rohib”.Sang Raja kemudoan memukul dan membunyikan beduk untuk memberitahukan rakyatnya agar berkumpul di pendopo istana.Sang Raja membeitahukan bahwa ia akan mengadakan syukuran kaena dikaruniai anak ”Wahai rakyatku,permaisuriku telah melahirkan anak laki laki.Karena itu,aku akan mengadakan syukuran kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberiku anak”.”Ampun Wahai Baginda Raja,kapan acara syukuran itu akan dilaksanakan?”tanya salahsatu rakyatnya.”Besok,aku akan mengadakannya”jawab raja.Keesokan harinya,Raja mengadakan syukuran atas kelahiran anaknya.Acara itu diadakan dengan meriah dan diwarnai dengan berbagai pertunjukkan yang menarik.

Raja dan permaisuri mendidik dan membesarkan Rohib dengan penuh kasih sayang.Rohib sangat disayang dan dimanjakan oleh orang tuanya.Karena itu,Rohib tumbuh menjadi anak yang baik tapi manja.

Suatu hari,sang Raja mengirim Rohib untuk belajar dan menuntut ilmu di kota.”Rohib,kamu akan ayah kirim ke kota untuk belajar.Sepulang dari kota,harus pintar.Karena itu,belajarlah dengan bersungguh-sungguh”.Tetapi,sifat manja Rohib terbawa ke kota dan akhirnya Rohib tak menyelesaikan sekolah.        Rohib pulang sebelum masa belajarnya selesai.Sang Raja amat marah dan menghukum mati Rohib.”Dasar anak tak tahu diuntung.Pengawal,gantung anak ini sampai mati!”.”Ampun ayahku,ampunilah aku” ucap Rohib

Tetapi,sang permaisuri mengatakan Rohib jangan dihukum karena Rohib merupakan anak satu-satunya “Kanda,janganlah Rohib dihukum,karena dia adalah anak kita satu-satunya”.”Adinda,anak seperti ini mesti dihukum,aku muak melihat wajahnya”Ucap Sang Raja.Akhirnya,sang Permaisuri memutuskan agar lebih baik Rohib diusir dan diberi modal untuk berdagang”Janganlah Kanda,lebih baik,Rohib kita usir dan diberi modal untuk berdagang”.”Hmm,boleh juga itu Adinda,Rohib,apakah pendapatmu?”tanya Raja kepada Rohib.”Mau ayah,terimakasih ibunda”ucap Rohib.Rohib pun berpamitan kepada ayah dan ibunya untuk pergi dari istana “Ayah,Ibu,Rohib pamit untu keluar dari istana ini,sesuai dengan hukuman yang ayah dan ibu berikan kepada Rohib”.”Rohib,berhati-hatilah ya nak dalam perjalanan nanti,dan juga bawalah hasil berdagang di perjalanan”ucap Permaisuri sembari memberikan kantung uang kepada Rohib.”Baiklah ibu,Rohib akan berhati-hati dalam perjalanan dan membawa hasil berdagang ibu”Ucap Rohib.

Rohib pun berangkat dan keluar dari istana.Ia mengembara dari satu kampong ke kampong lainnya.Saat dalam perjalanan,ia melihat banyak orang yang menembak burung dengan ketapel.Rohib menasihati mereka agar tidak menembak burung-burung itu”Hai saudaraku,berhentilah kamu untuk menyiksa binatang,kan kasihan burung itu”.Tetapi,mereka tidak mau berhenti menembak burung itu.

”Hai,memangnya kamu siapa,seenaknya saja menyuruh kita untuk tidak berhenti menembak burung-burung itu”.Mereka terus menyiksa binatang.Akhirnya,Rohib memberi uang kepada mereka agar tidak menyiksa binatang”Ini,aku beri kamu uang agar tidak menembak burung lagi mulai sekarang”.Setelah diberi uang,mereka tidak lagi menyiksa binatang.Uang itu adalah yang diberi orangtuanya sebagai modal untuk berdagang.Begitu Seterusnya,sepanjang perjalanan Rohib melihat banyak orang yang menganiaya binatang dan memberinya Uang agar tidak menganiayanya lagi.Uang Rohib lama-lama menjadi habis karena diberi orang agar tidak menyiksa binatang.Rohib sedih dan karena perjalanan yang melelahkan,Rohib berhenti di pohon di tengah hutan untuk tidur dan meratapi nasibnya.

Saat Rohib bangun,alangkah terkejutnya ia saat melihat seekor ular raksasa yang menghampirinya.Rohib takut dan cepat-cepat ingin lari.Tetapi,ular itu malah bersikap ramah pada Rohib.”Hai anakku,janganlah takut.Aku tidak akan memangsamu.Aku adalah Raja Ular di hutan ini.Siapa namamu dan mengapa kamu kelihatan bersedih”tanya Ular.”Aku bernama Rohib”jawab Rohib.Lalu Rohib menceritakan apa yang terjadi.”Sungguh baik niatmu anakku,Karena kebaikanmu,aku akan memberikan benda ini”Sang ular memberikan sebuah benda dengan menjulurkan lidahnya sambil memberi suatu benda yang bentuknya sebuah permata.

“Benda apa itu?”tanya Rohib.”Ini adalah Mentiko Bertuah,benda yang bisa mengabulkan semua yang kamu minta”.Benda itu adalah Mentiko Bertuah.Benda itu dapat mengabulkan apa saja yang dia minta “Wah,benda ini bisa menolongku dari kemurkaan ayah”.Rohib membawa benda itu.Rohib berterima kasih pada ular tersebut.

Agar tidak Hilang,Rohib membawa Mentiko Bertuah ke tukang emas.Sebelum Rohib ke tukang emas,Terlebih dahulu Rohib meminta kepada Mentiko Bertuah uang yang banyak”Wahai Mentiko Bertuah,aku ingin meminta uang yang banyak”.Lalu,Mentiko Bertuah menyediakannya.Setelah itu,Rohib pergi ke Istana untuk menyerahkan uang tersebut kepada Ayahnya”Ayahku,inilah hasil berdagang Rohib di kota Ayah,terimalah”.Ayahnya pun senang menerima uang dari Rohib.

Setelah itu,ia pergi ke tukang emas dengan membawa Mentiko Bertuah.Setelah sampai,Ia meminta kepada sang tukang emasagar benda tersebut ditempa menjadi cincin.Sang Tukang Emas menerimanya.Setelah itu,sang tukang emas menipu Rohib dan membawa lari Mentiko Bertuah.

Rohib meminta bantuan sahabatnya,Anjing,Kucing,dan Tikus untuk menemukan Mentiko Bertuah.Anjing mencari jejak tukang emas,dan akhirnya menemukan jejaknya.Lalu,Kucing memasukkan ekornya ke lubang hidung si tukang emas yang sedang tertidur di bawah pohon.Setelah itu,sang tukang emas bersin dan Mentiko Bertuah terlempar dari mulutnya.Lalu,si tikus mengambil cincin itu.

Sebelum dikembalikan kepada Rohib,tikus menipu anjing dan kucing  dengan mengatakan bahwa Mentiko Bertuah terjatuh ke dalam sungai dan hilang.Karena itu,Anjing dan Kucing panik dan mencari Mentiko Bertuah ke dasar sungai.

Sang Tikus pun menyerahkan cincin itu kepada Rohib.Rohib sangat berterima kasih kepada tikus dan mengira bahwa tikuslah yang paling berjasa dalam mencari Mentiko Bertuah.”Terima kasih tikus,kamu memang yang paling berjasa mencarikan Mentiko Bertuah .Aku ucapkan sekali lagi terimakasih kepadamu tikus”.

Kucing dan Anjing yang tidak menemukan Mentiko Bertuah di Sungai pun menghadap Rohib “Tuanku,Rohib,kami tidak menemukan Mentiko Bertuah itu.Rohib,dimana Tikus?”.Rohib mengatakan bahwa Mentiko Bertuah sudah kembali berkat bantuan Tikus “Apa,Mentiko Bertuah itu sudah diberikan oleh Tikus?””Ya,Tikuslah yang berjasa mengambilkan Mentiko Bertuah itu”jawab Rohib.Mengetahui hal itu,Kucing dan Anjing menjadi kesal.Sejak itu pula,terdapat permusuhan.Anjing memusuhi Kucing dan Tikus,Sedangkan Kucing juga memusuhi tikus.

Atu Belah (Batu Belah)

Atu Belah merupakan sebuah batu besar yang terletak sekitar 35 km dari Takengon,Gayo.Konon,batu ini dapat menelan siapa saja yang bernyanyi dengan bahasa Gayo di dekat batu tersebut dengan cara batu itu akan terbelah dan menarik orang yang bernyanyi dengan bahasa Gayo tersebut.Masyarakat Gayo percaya dengan kisah tentang Atu Belah tersebut.Ini hanyalah sebuah legenda,tidak bisa dipastikan kebenarannya.
Dahulu di tanah Gayo,terdapat sebuah desa bernama Penarun.Di desa tersebut hiduplah keluarga petani yang sangat miskin.Mereka terdiri dari Ayah,Ibu,dan dua orang anak.Yang tertua berusia tujuh tahun,dan yang bungsu masih menyusui.

Sang Ayah bekerja sebagai petani,dan bila ada waktu senggang,sang ayah mencari belalang di hutan untuk dimakan.Belalang-belalang tersebut ditaruh di dalam lumbung untuk disimpan.Belalang-belalang tersbut nantinya akan diolah oleh istrinya menjadi makanan untuk keluarganya.Belalang ini sangat berguna untuk kehidupan sehari-hari dan pada saat musim paceklik tiba karena sawah mereka yang hanya seluas beberapa petak saja tidak cukup untuk kehidupan mereka sehari-hari.

Pada suatu hari,sang ayah pergi berburu ke hutan untuk mencari belalang.Sang ayah pamit terlebih dahulu kepada sang istri.

”Bu,jaga kedua anak kita di rumah!aku akan pergi mencari belalang di hutan.Doakan aku agar dapat belalang pada hari ini.Aku berangkat ya bu.”Pamit sang ayah kepada istrinya,lalu berangkat menuju hutan

Sang ibu menjaga kedua anaknya sembari menunggu suaminya berburu.Tetapi,hari sudah siang,sang ayah belum pulang juga.Kedua anak-anaknya sudah menangis dan merengek kelaparan.Sementara sang ibu mencari belalang yang tersedia di dapur.

”Ya Tuhan,makanannya sudah habis,sedangkan anak-anakku sudah kelaparan.Aduh,bagaimana ini?”.Sang ibu kebingungan.

Sang ibu pun teringat akan belalang-belalang yang suaminya simpan di lumbung.Sang Ibu lalu memutuskan untuk menyuruh anak tertuanya untuk mengambil  belalang di lumbung.”Anakku,ibu minta tolong untuk ambilkan belalang di lumbung untuk makanan kita.Ibu minta tolong”Suruh sang Ibu.”Baklah ibu,aku akan berangkat ke lumbung.”.

Sang anak pun berangkat ke lumbung.Sesampainya di lumbung,ia naik lalu masuk kedalam lumbung.Sang anak asyik bermain-main sambil menagkap belalang yang terbang.Karena pintu lumbung belum ditutup,jadi belalang-belalang tersebut pada lepas semua.

”Celaka!,aku belum menutup pintu lumbung.Belalang-belalangnya pada lepas semua.Aku akan dimarahi ibu.Aduh,bagaimana ini?”Pikir  sang anak ketakutan.

Sang anak pun pulang dengan tangan hampa.Saat sang ibu melihat sang anak tidak membawa apa-apa,sang ibu bertanya”Mengapa kamu tidak membawa belalang.Bukankah ibu menyuruh kamu untuk mengambil belalang di lumbung?Apa sebenarnya yang terjadi nak,jelaskan,apa yang terjadi!”.

Sang anak pun menjelaskan semuanya.”Ibu,aku saat mengambil belalang-belalang tersebut,aku lupa menutup pintu lumbung.Jadi,belalang-belalang tersebut lepas.Maafkan aku atas kecerobohanku”Jelas sang anak sambil menangis meminta maaf kepada ibunya.”Ya nak,ibu memaafkan kamu”.

Tak beberapa lama,sang ayah pulang.Sang ayah tidak mendapat apa-apa dan meminta makan kepada istrinya.”Bu,aku sekarang tidak dapat apa-apa bu.Siapkanlah belalang untuk kita makan.Aku sudah lapar  sehabis berburu”Rintih sang ayah.”Maaf pak,hari ini kita juga tidak bisa makan belalang,karena saat mengambil belalang di lumbung,akju lupa menutup pintunya dan belalangnya lepas semua”Jelas sang ibu sambil berbohong menutupi kesalahan anaknya.

”Apa?Dasar ceroboh!kamu tidak bisa bayangkan bagaimana susahnya aku mencari belalang di hutan!”.Sang ayah marah.Tanpa sadar,sang ayah mendaratkan tangannya ke wajah istrinya.

Sang ibu pergi dari rumah dengan sakit hati.Ia tidak menyangka suaminya akan menamparnya.Sang ibu pergi ke hutan dengan hati yang remuk redam.Dari belakang,kedua anaknya mengikuti ibunya ke hutan.Sang ibu menemukan sebuah batu yang bernama Atu Belah.Didepan batu itu,sang ibu bernyanyi berkali-kali menggunakan bahasa Gayo.Batu itu pun terbelah dan terbuka.Sang ibu masuk ke dalam batu itu.Cuaca yang awalnya cerah,berubah menjadi gelap,petir menyambar-nyambar,angin berembus kencang,dan hujan yang lebat mengiringi Atu Belah menelan manusia.

Kedua anaknya berteriak memanggil ibunya.”Ibu,jangan tinggalkan kami!Ibu!”.Sang ibu sudah masuk kedalam Atu Belah,dan batu tersebut tertutup.Yang tersisa hanya tujuh helai rambut ibunya yang kemudian dijadikan anaknya sebagai jimat sekaligus untuk mengingat ibunya.Ayahnya yang menyesal terus mencari istrinya tetapi istrinya tidak juga ditemukan.