Minggu, 24 April 2011

Abdul Muis


Lahir: Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883
Wafat: Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959
Makam:Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra,Bandung

ABDUL MUIS dilahirkan di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883. Ia adalah putra Datuk Tumenggung Lareh, Sungai Puar. Seperti halnya orang-orang Minangkabau Iainnya, Abdul Muis juga memiliki jiwa petualang yang tinggi. Sejak masih remaja ia sudah berani meninggalkan kampung halamannya, merantau ke Pulau Jawa.
Pendidikan pertamanya ialah pada saat ia masuk ke Europeesche Lagere School (ELS/setingkat SD).Pada saat lulus,ia kemudian melanjutkan pendidikannya hingga masuk ke School Tot Opleiding Artseen (STOVIA/Sekolah Pendidikan Dokter Hindia). Ia belajar di Stovia selama tiga setengah tahun (1900-1902). Namun, karena sakit, ia terpaksa keluar dan sekolah kedokteran tersebut.
Meskipun hanya berijazah ujian amtenar kecil (Klein Ambtenaars Examen) dan ELS, Abdul Muis memiliki kemampuan berbahasa Belanda yang baik. Bahkan, menurut orang Belanda, kemampuan Abdul Muis dalam berbahasa Belanda dianggap melebihi rata-rata orang Belanda sendiri.Oleh karena itu, begitu keluar dan Stovia, ia diangkat oleh Mr. Abendanon, Directeur Onderwijs (Direktur Pendidikan) sebagai klerk pada Departement van Onderwijs en Eredienst yang kebetulan membawahi Stovia.
Akhirnya, pada tahun 1905 Ia keluar dan Departemen itu setelah dijalaninya selama Iebih kurang dua setengah tahun (1903-1905). Pada tahun 1905 itu juga ia diterima sebagai anggota dewan redaksi majalah Bintang Hindia, sebuah majalah yang banyak memuat berita politik, di Bandung. Karena pada tahun 1907 Bintang Hindia dilarang terbit, Abdul Muis pindah kerja ke Bandungsche Afdeelingsbank sebagai mantri lumbung.. Pekerjaan itu ditekuninya selama lebih kurang lima tahun, sebelum ia diperhentikan dengan hormat (karena cekcok dengan controleur) pada tahun 1912.
Ia kemudian bekerja di De Prianger Bode, sebuah surat kabar (harian) Belanda yang terbit di Bandung, sebagal korektor, Hanya dalam tempo tiga bulan, ia diangkat menjadi hoofd corrector (korektor kepala) karena kemampuan berbahasa Belandanya yang baik.
Nama Muis mulai naik daun ketika artikelnya sering dimuat di De Express milik Indische Partij (IP) yang dipimpin tiga serangkai Douwes Dekker, Soewardi Soerjaningrat, dan Tjipto Mangoenkoesoemo pada 1912. Di situ, Moeis kerap mengecam orang-orang Belanda yang merendahkan martabat kaum bumiputera.
Setelah De Expres dibredel akibat artikel keras Soewardi Soerjaningrat pada 1912, Muis bergabung dengan majalah Hindia Sarekat sebagai redaktur. Ia juga masuk ke jajaran redaksi Oetoesan Hindia, media Sarekat Islam (SI), pada 1915. Dua tahun kemudian, ia bergabung dengan Neratja. Tahun 1922, Moeis bersama AH Wignjadisastra mendirikan koran Kaoem Moeda. Sebelumnya, Kaoem Kita terbit atas prakarsanya pada 1921. Wawasan jurnalistik Moeis yang seabrek itu diawalinya ketika bekerja di Preangerbode, suratkabar milik orang Belanda yang hadir pada kurun 1886-1923.
Dari sekian banyak suratkabar yang diawakinya -belum termasuk tulisan-tulisannya di pelbagai media lain-Muis paling berperan sentral di suratkabar Neratja. Sebelum Moeis masuk, di Neratja sudah tercantum nama Agus Salim dan Djojosoediro sebagai redacteur, Derma Kasoema di posisi  directeur, serta M Soekandi di bagian administratie. Abdoel Moeis dianggap sangat layak direkrut sebagai pemimpin redaksi Neratja dan resmi bergabung pada 8 September 1917.
Selain bertanggungjawab penuh di keredaksian, Moeis juga memimpin perusahaan NV Neratja yang terutama mengiklankan perusahaan-perusahaan gula. Neratja memang merupakan organ dari Suikersindicaat (asosiasi pabrik gula) bumiputera Hindia. Hasil usaha Neratja digunakan juga untuk mendirikan perusahaan periklanan dan perusahaan penerbitan di Sumatera Timur.
“Haloeannja hendak menjokong dan membantoe segala oesaha pergerakan jang menoedjoe kebaikan dan kemadjoean bangsa dan tanah air, dengan djalan yang patoet”, itulah jargon harian Neratja. Pena tajam Moeis mengobarkan semangat perlawanan rakyat pribumi terhadap kolonialisme dan diskriminasi. Komitmen Muis atas perbaikan nasib pribumi melekat pada karyanya.
Di Neratja inilah Muis menumpahkan segenap cita-cita dan isi otaknya. Ia tak pernah jemu meneriakkan slogan nasionalisme serta menuntut pemerintahan sendiri untuk bumiputera. Berikut nukilan salah satu tulisan Moeis bertajuk “Perasaan Tjinta pada Bangsa dan Tanah Air, Nasionalisme” yang dimuat di Neratja edisi 16 Oktober 1916:
    “Selama Bumiputera tanah Hindia belum mempunyai kebangsaan dan tanah air sejati, maka perasaan cinta pada tanah air dan bangsa itu haroes dibangunkan dalam kalbu boemipoetera itoe. Sebab suatu bangsa yang tidak mempoenjai perasaan itoe tidak akan madjoe, malah moendoer, jika ia koerang-koerang tegoeh berdiri pada batoe tapakannja.”
Seruan “Hindia boeat anak Hindia!” berkali-kali diteriakkan Muis di Neratja. Lebih tegas dan garang, ia kembali membakar rasa kebangsaan Bumiputera:
  “Jang pertama-tama haroes kita miliki oentoek oesaha jang soekar dan berbahaja ini adalah rasa Kebangsaan, jaitoe tjinta kepada negara dan sesama bangsa kita. Bila kita renoengkan betapa boeroeknja nasib negara dan sesama bangsa kita jang beratoes-ratoes tahoen terbelenggoe oleh orang-orang asing, serasa berdebarlah hati kita, berdiri boeloe roma, dan kita merasa kasihan kepada negara dan sesama bangsa kita.
Kemerdekaan Hindia. Ya, itulah yang menjadi pokok perjuangan Moeis, sebuah tuntutan berbahaya dan mustahil terwujud pada masa itu. Tapi Moeis mengawalinya dengan menyatakan bahwa tujuan dibentuknya pelbagai perhimpunan di Hindia adalah untuk memperbaiki nasib bumiputera. Dan bila ditelisik lebih jauh lagi, lanjut Moeis, bahwa “... perhimpoenan-perhimpoenan terseboet hanja satoe toejoeannja, jaitoe KEMERDEKAAN HINDIA!”
Muis tak pernah menyebut Hindia Belanda untuk nusantara. Baginya, Hindia Belanda menjelaskan sebuah hubungan dari Belanda atas Hindia yang didasari atas kepemilikan dan dominasi. Tipe hubungan yang sama juga diekspresikan oleh kata "daerah jajahan" yang digunakan bagi Hindia. Moeis kemudian memberi makna politis dalam bentuk Hindia yang harus merdeka. Abdoel Moeis adalah salahsatu penggagas lahirnya nama Indonesia. Sebagai pemuda yang berjiwa patriot, ia mulai tertarik pada dunia politik dan masuklah ia ke Serikat Islam (SI).
Bersama dengan A.H. Wignyadisastra, Ia dipercaya untuk memimpin Kaum Muda, salah satu surat kabar milik SI yang terbit di Bandung. Pada tahun itu pula, atas inisiatif dr. Cipto Mangunkusumo, Abdul Muis (bersama dengan Wignyadisastra dan Suwardi Suryaningrat) membentuk Komite Bumi Putra untuk mengadakan perlawanan terhadap maksud Belanda mengadakan perayaan besar-besaran 100 tahun kemerdekaannya serta untuk mendesak Ratu Belanda agar memberikan kebebasan bagi bangsa Indonesia dalam berpolitik dan bernegara.
Pada tahun 1917 ia dipercaya sebagai utusan SI pergi ke Negeri Belanda untuk mem-propagandakan comite Indie Weerbaar. Pada tahun 1918, sekembalinya dan Negeri Belanda, Abdul Muis terpaksa harus pindah kerja ke harian Neraca karena Kaum Muda telah diambil alih oleh Politik Economische Bond, sebuah gerakan politik Belanda di bawah pimpinan Residen Engelenberg. Pada tahun 1918 itu juga, Abdul Muis menjadi anggota dewan Volksraad (Dewan Rakyat). Pada tahun 1922, ia memimpin anak buahnya yang tergabung dalain PPPB (Perserikatan Pegawai Pegadaian Boemiputera) mengadakan pemogokan di Yogyakarta. Setahun kemudian, ia pun memimpin sebuah gerakan memprotes aturan Landrentestelsel (Undang-undang Pengawasan Tanah) yang akan diberlakukan oleh Belanda di Sumatra Barat. Muis adalah ketua (PPPB). Protes tersebut herhasil. Dan, Landrentestelsel pun urung diberlakukan. Di samping itu, ia juga masih tetap memimpin harian Utusan Melayu dan Perobahan. Melalui kedua surat kabar tersebut ia terus melancarkan serangannya.
Oleh pemerintah Belanda, tindakan Abdul Muis tersebut dianggap dapat mengganggu ketenteraman dan ketertiban masyarakat. OIeh karena itu, pada tahun 1926 Abdul Muis ‘dikeluarkan’ dan daerah luar Jawa dan Madura. Akibatnya, selama Iebih kurang tiga belas tahun (1926--1939) Ia tidak diperkenankan meninggalkan Pulau Jawa.
Meskipun tidak boleh meninggalkan Pulau Jawa, tidak berarti Abdul Muis berhenti berjuang. Ia kemudian mendirikan harian Kaum Kita di Bandung dan Mimbar Rakyat di Garut. Sayang, kedua surat kabar tersebut tidak lama hidupnya.
Di samping berkecimpung di dunia pers, Abdul Muis tetap aktif di dunia politik. Oleh Serikat Islam ia pada tahun 1926 dicalonkan (dan terpilih) menjadi anggota Regentschapsraad Garut. Enam tahun kemudian (1932) ia diangkat menjadi Regentschapsraad Gontroleur. Jabatan itu diembannya hingga Jepang masuk ke Indonesia (1942).
Di masa pendudukan Jepang, Abdul Muis masih kuat bekerja meskipun penyakit darah tinggi mulai me├▒ggerogotinya. Ia, oleh Jepang, diangkat sebgai pegawai sociale zaken ‘hal-hal kemasyarakatan’. Karena sudah merasa tua, pada tahun 1944 Abdul Muis berhenti bekerja. Anehnya, pada zaman pascaprokiamasi, ia aktif kembali dan ikut bergabung dalam Majelis Persatuan Perjuangan Priangan. Bahkan, ia pernah pula diminta untuk menjadi anggota DPA.
Bakat kepengarangan Abdul Muis sebenarnya baru terlihat setelah Ia bekerja di dunia penerbitan, terutama di harian Kaum Muda yang dipimpinnya. Dengan menggunakan inisial nama: A.M. ia menulis hanyak hal. salah satu di antananya adalah roman sejarahnya. Surapati. Konon. sebelum diterbitkan sebagai buku, roman tersebut dimuat sebagal feui/.leton ‘cerita bersambung’ pada Kaum Muda. Penangkapan itu membuatnya tidak bisa terjun lagi ke arena pergerakan nasional. Moeis banting setir menjadi petani di tempat pembuangannya. Setelah kemerdekaan, ia mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan.
Abdul Muis juga kondang sebagai seorang sastrawan. Salah Asuhan yang melegenda itu adalah salahsatu karya monumentalnya.Karya-karyanya yang lain adalah:
·         Tom Sawyer Anak Amerika (terjemahan dan karya Mark Twain, Amerika), Jakarta:Balai Pustaka, 1928
·         Sebatang Kara (terjemahan dan karya Hector Malot, Perancis), cetakan 2, Jakarta:Balai Pustaka, 1949
·         Hikayat Bachtiar (saduran cerita lama), Bandung:Kolff, 1950
·         Hendak Berbalai, Bandung:KoIff, 1951
·         Kita dan Demokrasi, Bandung:Kolff, 1951
·         Robert Anak Surapati, Jakarta:Balai Pustaka, 1953
·         Hikayat Mordechai: Pemimpin Yahudi, Bandung:Kolff. 1956
·         Kurnia, Bandung:Masa Baru, 1958
·         Pertemuan Djodoh (cetakan 4), Jakarta:Nusantana, 1961
·         Surapati. Jakarta:Balai Pustaka, 1965
·         Salah Asuhan, Jakarta:Balai Pustaka, 1967
·         Cut Nyak Dien: Riwayat Hithip Seorang Putri Aceh (Terjemahan dan karya Lulofs, M.H. Szekely), Jakarta:Chailan Sjamsoe, t.t.
·         Don Kisot (terjemahaiun dan karya Cervantes, Spanyol)
·         Pangeran Kornel (terjemahan dan karya Memed Sastrahadiprawira, Sunda)
·         Daman Brandal Sekolah Gudang, Jakarta:Noordhoff, t.t.
Selain itu, Muis berperan di balik berdirinya Technische Hooge School di Bandung yang merupakan cikal-bakal dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Ia pun kemudian wafat di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umurnya yang berusia 75 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra,Bandung dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang pertama oleh Presiden Republik Indonesia yang kepertama, Soekarno, pada 30 Agustus 1959,berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar