Minggu, 24 April 2011

Jendral Besar Kehormatan Abdul Haris Nasution


Lahir: Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918
Wafat: Jakarta, 6 September 2000
Makam:Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata,Jakarta


ABDUL HARRIS NASUTION,atau yang lebih akrab dipanggil Pak Nas,dilahirkan di Kotanopan,  Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918.Ia dibesarkan dalam keluarga tani yang taat beribadat. Ayahnya anggota pergerakan Sarekat Islam di kampung halaman mereka di Kotanopan, Tapanuli Selatan. Pak Nas senang membaca cerita sejarah. Anak kedua dari tujuh bersaudara ini senang membaca buku-buku sejarah, dari Nabi Muhammad SAW sampai perang kemerdekaan Belanda dan Prancis.
Pendidikan pertamanya adalah pada saat masuk Hollandsche School (HIS,setingkat SD) diYogyakarta,dan selesai pada tahun 1932.Kemudian,ia masuk ke Algemenee Middlebare School (AMS) -B (SMA Paspal) .Selepas keluar dari AMS-B (SMA Paspal) pada tahun 1938, Pak Nas sempat menjadi guru di Bengkulu dan Palembang.
Tetapi,kemudian ia tertarik masuk Akademi Militer.Kebetulan,pada tahun 1940,Belanda membuka sekolah perwira cadangan bagi pemuda Indonesia.Kesempatan itu tak di sia-siakan. Ia kemudian mendaftar untuk sekolah Militer,dan diterima untuk sekolah Militer di Bandung.Kemudian,ia menjadi pembantu letnan di Surabaya.Tetapi,pendidikannya terhenti karena kedatangan Jepang,pada tahun 1942.Karena kedatangan Jepang,ia mengalami pertempuran pertamanya saat melawan Jepang di Surabaya.Sebagai taruna, ia menarik pelajaran berharga dari kekalahan Tentara Kerajaan Belanda yang cukup memalukan. Di situlah muncul keyakinannya bahwa tentara yang tidak mendapat dukungan rakyat pasti kalah.
Setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, Nasution bersama para pemuda eks-PETA mendirikan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Pada Maret 1946, ia diangkat menjadi Panglima Divisi III/Priangan. Mei 1946, ia dilantik Presiden Soekarno sebagai Panglima Divisi Siliwangi. Pada Februari 1948, ia menjadi Wakil Panglima Besar TNI (orang kedua setelah Jendral Soedirman). Sebulan kemudian jabatan "Wapangsar" dihapus dan ia ditunjuk menjadi Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI. Di penghujung tahun 1949, ia diangkat menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat.
Dalam Revolusi Kemerdekaan I (1946-1948), ketika memimpin Divisi Siliwangi, Pak Nas menarik pelajaran kedua. Rakyat mendukung TNI. Dari sini lahir gagasannya tentang perang gerilya sebagai bentuk perang rakyat. Metode perang ini dengan leluasa dikembangkannya setelah Pak Nas menjadi Panglima Komando Jawa dalam masa Revolusi Kemerdekaan II (1948-1949).
Pak Nas muda jatuh cinta pada Johana Sunarti, putri kedua R.P. Gondokusumo, aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak muda, Pak Nas gemar bermain tenis. Pasangan itu berkenalan dan jatuh cinta di lapangan tenis (Bandung) sebelum menjalin ikatan pernikahan. Pasangan ini dikaruniai dua putri,yaitu Ade Irma Suryani dan Hendriyanti Saharah(Ade Irma terbunuh padawaktu terjadinya G30S/PKI).
Di penghujung tahun 1949, ia diangkat menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD) yang boleh disebut juga sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat(Men/Pangad) .Pengagum Bung Karno di masa muda, setelah masuk di jajaran TNI, Pak Nas acapkali akur dan tidak akur dengan presiden pertama itu. Pak Nas menganggap Bung Karno campur tangan dan memihak ketika terjadi pergolakan di internal Angkatan Darat tahun 1952.Karena itulah,Ia berada di balik ”Peristiwa 17 Oktober”, yang menuntut pembubaran DPRS dan pembentukan DPR baru. Akibat peristiwa ini Presiden Soekarno mencopotnya dari jabatan KASAD dan menggantinya dengan Bambang Sugeng. Setelah akur kembali akhirnya pada November 1955 ia menjabat kembali posisinya sebagai KASAD. Tidak hanya itu, pada Desember 1955 ia pun diangkat menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia.Dan juga,ia diangkat menjadi Menteri Kompartemen (Menko) Pertahanan Keamanan (Hankam).Pada tahun 1962,Jabatan Men/Pangad yang ia pegang digantikan oleh Letnan Jendral(Letjend) Ahmad Yani.Kemudianiamenjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KASAB).
Pak Nas dipercaya Bung Karno sebagai co-formatur pembentukan Kabinet Karya dan Kabinet Kerja. Keduanya tidak akur lagi usai pembebasan Irian Barat lantaran sikap politik Bung Karno yang memberi angin kepada PKI.
Namun, dalam situasi seperti itu Pak Nas tetap berusaha jujur kepada sejarah dan hati nuraninya. Bung Karno tetap diakuinya sebagai pemimpin besar. Suatu hari tahun 1960, Pak Nas menjawab pertanyaan seorang wartawan Amerika, ”Bung Karno sudah dalam penjara untuk kemerdekaan Indonesia, sebelum saya faham perjuangan kemerdekaan”.
Pak Nas dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya dalam melawan kolonialisme Belanda. Tentang berbagai gagasan dan konsep perang gerilyanya, Pak Nas menulis sebuah buku fenomenal, Strategy of Guerrilla Warfare.Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, jadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi militer dunia, West Point Amerika Serikat (AS).
Pada tahun 1965,Partai Komunis Indonesia(PKI) menuntut dibentuknya Angkatan Kelima.Men/Pangad Letjen Ahmad Yani menolak tuntutan tersebut dengan tegas.Pak Nas,bersama kelima Jendral lainnya,mengikuti apa yang dilakukan Ahmad Yani.Karena itu,PKI mencantumkan Pak Nas kedalam daftar musuh PKI,yang pada tanggal 1 Oktober 1965 harus dilenyapkan dengan cara diculik.Peristiwa itulah yang dinamakan Gerakan 30 September (G30S/PKI).
Pada saat terjadinya Gerakan,Pasukan penculik dipimpin oleh Pelda Djahrub.Pasukan tiba di Rumah Pak Nas di Jalan Teuku Umar no.40,pada jam 03.30.Agar penculikan mudah,mereka mengamankan penjaga di Rumah Wakil Perdana Menteri (Waperdam) II,J.leimena yang berada di samping rumah Pak Nas.Brigadir Polisi Karel Satsuit Tubun,gugur dalam pengamanan.
Pasukan penculik kemudian masuk kerumah Pak Nas yang tak terkunci.Akan tetapi,Pak Nas bisa menyelamatkan diri dengan melompati tembok pagar samping kiri rumahnya.Tetapi,kakinya cedera karena terkena pot bunga.Itu terjadi karena ia kaget setelah tiga peluru ditembakkan ke dirinya,tetapi tidak kena.Ade Irma yang digendong Bu Mardiyah,saudara Pak Nas,tewas terkena terjangan peluru.
Mendengar suara ribut,Ajudannya,Lettu Pierre Tendean,keluar dari belakang dengan membawa senjata Garrant.Tetapi,ia keburu disergap.Ia pun ditanya,dimana Nasution berada.Ia menjawab bahwa dialah Nasution.Hal itu ia lakukan karena kesetiaannya terhadap pimpinannya.Karena keadaan gelap,mereka pun percaya bahwa yang mereka tangkap Nasution,dan membawanya ke Lubang Buaya untuk disiksa dan dibunuh.
Usai tugas memimpin MPRS tahun 1972, jenderal besar yang pernah 13 tahun duduk di posisi kunci TNI ini, tersisih dari panggung kekuasaan. Ia lalu menyibukkan diri menulis memoar. Sampai pertengahan 1986, lima dari tujuh jilid memoar perjuangan Pak Nas telah beredar. Kelima memoarnya, Kenangan Masa Muda, Kenangan Masa Gerilya, Memenuhi Panggilan Tugas, Masa Pancaroba, dan Masa Orla. Dua lagi memoarya, Masa Kebangkitan Orba dan Masa Purnawirawan, sedang dalam persiapan. Masih ada beberapa bukunya yang terbit sebelumnya, seperti Pokok-Pokok Gerilya, TNI (dua jilid), dan Sekitar Perang Kemerdekaan (11 jilid).
Pria Tapanuli ini lebih menjadi seorang jenderal idealis yang taat beribadat. Ia tak pernah tergiur terjun ke bisnis yang bisa memberinya kekayaan materi. Kalau ada jenderal yang mengalami kesulitan air bersih sehari-hari di rumahnya, Pak Nas orangnya. Tangan-tangan terselubung memutus aliran air PAM ke rumahnya, tak lama setelah Pak Nas pensiun dari militer. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, keluarga Pak Nas terpaksa membuat sumur di belakang rumah. Sumur itu masih ada sampai sekarang.
Memang tragis. Pak Nas pernah bertahun-tahun dikucilkan dan dianggap sebagai musuh politik pemerintah Orba. Padahal Pak Nas sendiri menjadi tonggak lahirnya Orba. Ia sendiri hampir jadi korban pasukan pemberontak yang dipimpin Pelda Djahrub. Pak Nas-lah yang memimpin sidang istimewa MPRS yang memberhentikan Bung Karno dari jabatan presiden, tahun 1967.
Pak Nas, di usia tuanya, dua kali meneteskan air mata. Pertama, ketika melepas jenazah tujuh Pahlawan Revolusi awal Oktober 1965. Kedua, ketika menerima pengurus pimpinan KNPI yang datang ke rumahnya berkenaan dengan penulisan buku, Bunga Rampai TNI, Antara Hujatan dan Harapan.
Apakah yang membuatnya meneteskan air mata? Sebagai penggagas Dwi Fungsi ABRI, Pak Nas ikut merasa bersalah, konsepnya dihujat karena peran ganda militer selama Orba yang sangat represif dan eksesif. Peran tentara menyimpang dari konsep dasar, lebih menjadi pembela penguasa ketimbang rakyat.
Pak Nas memang salah seorang penandatangan Petisi 50, musuh nomor wahid penguasa Orba. Namun sebagai penebus dosa, Presiden Soeharto, selain untuk dirinya sendiri, memberi gelar Jenderal Besar kepada Pak Nas pada 5 Oktober 1997, bertepatan dengan hari ABRI. Meski pernah “dimusuhi” penguasa Orba, Pak Nas tidak menyangkal peran Pak Harto memimpin pasukan Wehrkreise melancarkan Serangan Umum ke Yogyakarta, 1 Maret 1949.
Gaya hidup bersahaja dibawa Jenderal Besar A.H. Nasution sampai akhir hayatnya, 6 September 2000. Ia tak mewariskan kekayaan materi pada keluarganya, kecuali kekayaan pengalaman perjuangan dan idealisme. Rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta, tetap tampak kusam, tak pernah direnovasi. Namun Tuhan memberkatinya umur panjang, 82 tahun.Jenazahnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan(TMP) Kalibata,Jakarta.Oleh Presiden Megawati Soekarno Putri,beliau dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 6 November 2002,berdasarkan Keputusan Presiden No. 073/TK/2002.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar